Tampilkan postingan dengan label katak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katak. Tampilkan semua postingan

Katak Berwarna Indah

KATAKWARNA WARNI
Katak berwarna, foto diambil 13 Juni 2011 dan diterbitkan Institut Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan
Katak betina dewasa yang ditemukan para peneliti di Penrissen, Sarawak
Tim ilmuwan menemukan katak berwarna yang terakhir kali dilihat oleh para peneliti Eropa di Sarawak tahun 1924.
Katak yang ditemukan di kawasan timur Sarawak, Malaysia itu disebut Borneon Rainbow Toad, katak berwarna Borneo.
Para pegiat konservasi sebelumnya khawatir katak jenis ini akan punah dan dimasukkan dalam daftar "10 jenis katak yang paling dicari."
Profesor Indranei Das dari Universitas Sarawak mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa tim peneliti menemukan tiga katak jenis itu di pepohonan di kawasan pegunungan bulan lalu.
Das mengatakan timnya pertama kali memutuskan untuk mencari jenis katak ini Agustus lalu namun tanpa hasil.

Lokasi temuan dirahasiakan

Katak berwarna baru ditemukan setelah timnya mencari di pegunungan Penrissen, kawasan yang jarang dijelajahi pada abad lalu.
"Alam dapat mengejutkan kami, pada saat kami hampir menyerah, khususnya karena level kepunahan (binatang) di dunia ini semakin meningkat," kata Robin Moore, pakar ampibi pada lembaga Konservasi Internasional.
Katak-katak berwarna ini ditemukan di tiga pohon terpisah dengan ukuran 5,1 cm dan terdiri dari dua katak dewasa, satu jantan, satu betina dan satu katak kecil.
Profesor Das menolak untuk mengungkap tempat pasti penemuan itu karena khawatir spesies tersebut akan menjadi sasaran perburuan ilegal.
Para peneliti akan meneliti lebih lanjut tentang katak berwarna ini serta binatang amfibi lain di Penrissen.
Para pegiat mengatakan banyak satwa liar di Sarawak dan Kalimantan terancam perburuan dan tergerusnya habitat akibat penebangan hutan, perkebunan dan pembangunan perumahan.

KATAK PALING BERACUN

 

Katak rotan, salah satu spesies yang paling berbahaya di dunia, mulai membunuh satwa liar di luar Australia. Katak ini sangat beracun dan membunuh hewan predator yang coba memakannya. Akibatnya jumlah spesies reptil asli Australia terus berkurang.


Kini para ahli menemukan bahwa katak beracun itu juga membunuh ular boa di Hindia Barat. Selain itu hewan pemangsa di kawasan Karibia juga terancam. Katak rotan merupakan spesies katak terbesar dan memiliki racun bufogenin yang sangat kuat.
Habitat asli katak itu berada di sebelah utara Amerika Selatan hingga Amerika Tengah serta sebelah selatan Amerika Serikat.
Pada awal hingga pertengahan abad 19 katak itu sengaja dibawa ke kepulauan Karibia, termasuk Jamaika pada 1844 dan kemudian menyebar ke wilayah Pastifik Selatan.
Awalnya katak itu itu digunakan untuk memangsa hewan-hewan yang menganggu tanaman tebu termasuk tikus dan kumbang. Namun dalam perkembangannya katak-katak itu malah menghancurkan spesies asli suatu daerah.
Katak beracun ini telah menghancurkan populasi hewan predator ampibi seperti kadal dan ular di Australia. Ancaman itu menyebar di sebelah barat benua itu dari Queensland ke New South Wales hingga negara bagian Northern Territory.
Sekarang para ilmuwan menemukan hewan ampibi beracun ini sudah membunuh fauna langka di Karibia.
Byron Wilson dari  Universitas West Indies di Jamaika menemukan banyak kasus matinya ular boa Jamaika (Epicrates subflavus) akibat katak beracun itu. Ular boa merupakan hewan endemik di kepulauan Jamaika.
Boa, yang juga dikenal sebagai ular kuning, sudah sangat langka dan habitatnya terancam oleh kehadiran anjing dan babi.
“Meski katak ini sudah hadir di Jamaika selama lebih dari 160 tahun, ular boa belum mempunyai cara untuk menghindari spesies berbahaya itu,” kata Byron Wilson.
Sumber: BBC News